Udara pagi terasa menusuk tulang. Salju putih tebal menutupi seluruh area, menyelimuti tanah, pohon, dan bebatuan dalam lapisan berkilau yang memantulkan cahaya suram dari matahari yang bersembunyi di balik awan kelabu. Embusan angin dingin membawa butiran salju halus yang berputar-putar sebelum akhirnya jatuh dengan lembut ke tanah yang sudah memutih sempurna.

Dari pusaran energi yang berpendar dengan kilatan ungu keperakan, portal teleportasi terbuka dengan suara mendengung rendah. Cahaya yang memancar dari dalamnya memecah kesunyian, dan tiga sosok perlahan melangkah keluar.

Sosok pertama, seorang pria dengan sorot mata tajam dan tatapan waspada, mengenakan jubah hitam dengan sulaman naga perak yang tampak hidup di bawah cahaya portal. Udara dingin tidak mengusiknya, langkahnya mantap saat ia menyapu pandangannya ke sekeliling.

Di belakangnya, seorang wanita cantik berdiri dengan rambut panjang terurai, ujung rambutnya tertiup angin dan menyatu dengan kepingan salju yang berjatuhan. Matanya yang gelap mengamati keadaan sekitar, sementara tangan kanannya dengan lembut menyentuh gagang pedang yang tersembunyi di balik seragam putih khas sektenya.

Sosok terakhir adalah seorang wanita yang terlihat lebih dewasa dari wanita sebelumnya dengan senyum tenang namun mata penuh kewaspadaan. Dari matanya terlihat kecerdasan yang luar biasa. Jubah hijaunya kontras dengan pemandangan bersalju, dan setiap langkahnya meninggalkan jejak samar yang perlahan terkubur salju kembali.

Mereka berdiri dalam keheningan, mengamati tempat asing yang kini membentang di hadapan mereka, sementara portal di belakang mereka mengecil, bergetar, dan lenyap dalam semburat cahaya terakhir. Jejak teleportasi hanya menyisakan aliran Qi yang berputar sesaat sebelum larut dalam keheningan pagi yang membeku.

Udara dingin menusuk tulang. Hembusan angin membawa serpihan salju yang beterbangan, menggigit kulit dan menimbulkan rasa menggigil. Lala menarik jubahnya lebih erat, menggigil sementara napasnya mengepul seperti kabut tipis di udara.

“Lynx, apa yang kau lakukan di tempat sedingin ini?” tanyanya dengan nada keluhan yang tertahan. Matanya menyapu hamparan putih tak berujung. "Dan... di mana kita sekarang? Aku tidak pernah mendengar ada daerah bersalju di Kerajaan Qingxuan, bahkan di seluruh Benua Tianzhou sekalipun."

Lynx mengangkat bahu dengan ekspresi tenang. "Aku juga tidak tahu persis di mana ini, tapi yang jelas tempat ini sangat jauh dari Kerajaan Qingxuan." Matanya menyipit, menatap horizon putih yang tampak tidak bertepi. "Aku sedang mencari sebuah benda penting yang berguna untuk menyembunyikan identitasku. Peninggalan leluhur Xiao Tang."

"Benda apa itu? Darimana kamu tahu lokasinya?" Tanya Lala dengan tubuh gemetar. Sebagai forging qi menengah, tubuhnya belum mampu menahan hawa dingin.

"Aku mencoba mengikuti ingatan Leluhur Xiao Tang." Kata Lynx singkat sambil memandang kejauhan.

Lala mengernyit. "Mengikuti ingatan?"

"Lain waktu akan aku ceritakan, tapi sekarang kamu harus belajar dahulu cara beradaptasi, bukankah ranahmu cukup tinggi." Lynx menepuk bahu Lala dengan ringan.

"Kamu jangan menyindirku Lynx, dibandingkan kalian berdua, aku bukanlah apa-apa." Keluh Lala.

"Aku yakin kekuatanmu juga akan segera meningkat setelah Lynx membantumu nanti. Bukankah begitu Lynx?" Leena menatap Lynx meminta kepastian.

Leena sudah mendengar dari Lala bahwa Lynx sejak bertemu belum pernah mengajarkannya cara meningkatkan kekuatan atau memberinya sesuatu agar kekuatannya meningkat.

"Ya...ya... tentu saja." Jawab Lynx sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kebiasaan yang sering dilakukannya.

"Lala, kita atasi terlebih dahulu rasa dingin yang kamu rasakan. Dengarkan dan ikuti caraku bernapas. Tarik napas dalam-dalam, bayangkan hawa dingin berubah menjadi aliran energi yang menyatu dengan Qi dalam tubuhmu, lalu hembuskan perlahan. Begitu terus sampai rasa dingin memudar."

Lala mengangguk ragu, tetapi mengikuti instruksi Lynx. Seiring waktu, tubuhnya mulai terasa hangat meski angin dingin masih berhembus kencang. Lala memandang Lynx dengan penuh rasa kagum dan bersyukur.

"Terimakasih Lynx, aku sudah bisa beradaptasi."

Di sisi lain, Leena memandang Lynx dengan pandangan penuh tanya. "Kenapa Leluhur Sekte Api Langit mengizinkanku mengikutimu, padahal sebelumnya beliau mengatakan aku tidak boleh ikut denganmu?"

Lynx tersenyum samar. "Jawabannya panjang. Aku akan jelaskan sambil kita berjalan."

"Apakah tujuan kita masih jauh?" tanya Lala.

"Kurasa kearah sana. Tempatnya bergeser karena pergerakan retakan tanah yang memecah menjadi beberapa benua." Kata Lynx, lalu dia melanjutkan ceritanya.

***

Dua hari sebelumnya...

Setelah Leluhur bertanya pada Ling Mei tentang rencana Lynx untuk melatihnya, Ling Mei langsung mengangguk tegas. "Aku bersedia. Aku ingin memperkuat diriku dan mengasah kemampuan agar tidak lagi menjadi beban bagi sekte ini."

Tetua Luan kemudian maju menyampaikan pendapatnya,"Leluhur, saat ini kekuatan sekte kita sedang melemah, seluruh murid,guru dan tetua kehilangan banyak energi spiritual. Hanya Ling Mei dan beberapa orang saja yang berada dalam kondisi prima. Kami berharap Ling Mei bisa melindungi sekte ini, setidaknya hingga kita semua pulih kembali."

Tatapan Leluhur kembali tertuju pada Lynx, kemudian pada tetua yang berdiri mengelilingi mereka. Beberapa mengangguk setuju, karena mereka berharap Ling Mei bisa meningkatkan kekuatannya untuk mengikuti pertandingan, sementara yang lain tampak bimbang.

Setelah mempertimbangkan semua pendapat, Leluhur akhirnya menghela napas panjang. "Plasura, mempertimbangkan keadaan sekte, aku belum bisa membiarkan Ling Mei mengikutimu. Kuharap kamu bisa mengerti. Ling Mei sementara ini akan tetap tinggal di sekte untuk berlatih. Situasi sekte belum stabil, banyak yang terluka, dan kita membutuhkan kekuatan penuh untuk berjaga-jaga."

Lynx mengangguk penuh hormat. "Saya memahami keputusan Leluhur. Jika tidak ada kepentingan lagi, saya akan kembali sekarang."

Lynx segera memberikan penghormatan kepada leluhur, lalu berkata kepada Lala, "Sementara ini tinggallah disini. Aku akan menjemputmu setelah urusanku selesai."

Lynx lalu menatap leluhur,"Mohon murid saya diperbolehkan untuk menetap disini terlebih dahulu."

Setelah melihat leluhur menganggukkan kepalanya, dengan gerakan tangan yang elegan, Lynx membentuk segel teleportasi dan berpura-pura pergi dengan memasuki portal tersebut. Setelah menyimpan pakaian tempurnya, dia dalam sekejap membuka portal kembali dan muncul di kamar Ling Mei.

Namun ternyata kamar itu masih terdapat Li Wei yang menunggu kehadiran mereka. Li Wei terlihat tersenyum penuh arti, duduk di tepi ranjang. Matanya berbinar saat melihat Lynx muncul dari portal teleportasi.

Lynx menghela napas, dia sempat merasakan kaget karena tidak menduga ada orang ditempat ini. Itu sebabnya dia tidak menyukai menggunakan teleportasi karena dia tidak mengetahui kondisi tempat yang ditujunya. Bisa jadi seseorang akan melihat perbuatannya.

"Bagaimana, Xiao Ling? Apakah mereka mempercayaimu?" tanya Li Wei cemas.

"Tenang saja," jawab Lynx tenang. "Mereka kini yakin, aku bukan pembunuh Ketua Sekte Api Langit. Tapi aku tetap harus menemukan petunjuk pembunuhnya agar benar-benar membersihkan namaku."

Li Wei mendengus kesal. "Dasar mereka tidak tahu balas budi. Kau sudah menyelamatkan mereka, tapi malah dituduh sebagai pembunuh."

Lynx tersenyum tipis. "Mereka hanya berhati-hati. Jika posisi kita terbalik, aku mungkin akan melakukan hal yang sama. Selain itu kami tidak boleh berkata buruk terhadap perguruanmu sendiri."

Li Wei mendengus lalu menatap Lynx tajam. "Jadi, apa rencanamu sekarang?"

"Aku harus mencari cara untuk membawa Ling Mei keluar dari sekte," jawab Lynx mantap.

Mendengar kata keluar dari sekte, tanpa ragu, Li Wei berdiri dan merangkul tangan Lynx erat. "Aku ikut."

Lynx menatapnya dengan senyum penuh arti. "Aku sudah menduganya, kamu pasti ingin ikut, tetapi aku belum bisa mengajakmu."

"Kenapa? Aku tidak akan menyusahkan kalian. Aku tidak suka terkurung di tempat ini." Kata Li Wei dengan bibir cemberut.

"Jangan bilang kamu ingin berduaan saja dengan kak Ling Mei? Ingat kamu punya hutang cerita kepadaku. Kamu belum menceritakan kepadaku mengenai apa yang terjadi sebenarnya. Dan ada hubungan apa kamu dengan kak Ling Mei?" Lanjut Li Wei masih dengan tampang cemberutnya.

Lynx menatap Li Wei yang cemberut dengan ekspresi menggoda. “Kamu tidak boleh ikut, aku membutuhkanmu di sini untuk memberiku informasi jika ada berita terkait pembunuh ketua sekte kalian,” bujuk Lynx dengan suara yang lembut namun tegas.

"Mengenai hutang cerita yang kamu tanyakan, aku akan memberitahumu saat waktunya tiba." Kata Lynx sambil tersenyum menggoda.

